Subprime Mortgage

Pendahuluan

Rumah adalah salah satu kebutuhan primer bagi umat manusia. Selain untuk tempat tinggal dan bernaung, rumah juga merupakan sarana investasi yang paling menjanjikan dikarenakan kenaikan harga tanah dan bahan bangunan yang hampir pasti di setiap tahunnya. Maka dari itu, memiliki rumah merupakan impian yang cukup berat untuk dicapai.
Namun seiring perkembangan zaman, produk-produk keuangan semakin mempermudah manusia dalam bertransaksi. Pinjam meminjam atau kredit menjadi hal yang lumrah dan bahkan dapat diperjual belikan. Begitu juga dalam pasar perumahan dikenal dengan Kredit Pemilikan Rumah (KPR).
Kredit Pemilikan Rumah (KPR) adalah suatu fasilitas kredit yang diberikan oleh perbankan kepada para nasabah perorangan yang akan membeli atau merenovasi rumah. Selain dari perbankan, juga ada perusahaan pembiayaan yang menyalurkan pembiayaan dari lembaga sekunder untuk pembiayaan perumahan (housing financing). Prinsip KPR adalah membiayai terlebih dahulu biaya pembelian atau pembangunan rumah, dan dana untuk membayar balik dilakukan dengan cicilan/kredit dengan jaminan/agunan rumah tersebut.
Pemberian kredit diklasifikasikan pada 2 kelompok yaitu kelompok Prime Mortgage dan Subprime Mortgage. Prime Mortgage diberikan kepada peminjam yang memiliki credit history bagus dan memiliki repayment capacity (kemampuan membayar). Sedangkan Subprime Mortgage diberikan kepada peminjam yang tidak memenuhi kedua persyaratan di atas.
Salah satu cara mengukur kelayakan kredit dilakukan dengan cara melihat credit score (pemeringkatan kredit). Credit score mengacu pada penilaian mengenai tingkat kelayakan kredit (creditworthiness) suatu entitas atau transaksi yang meliputi kemampuan (capacity) maupun kemauan (willingness) untuk membayar kewajiban-kewajibannya.

Di Amerika Serikat, sistem pemberian KPR dilakukan menggunakan credit score atau rating untuk mengukur tingkat kelayakan nasabah yang akan mendapat kredit perumahan. Minimal rating rata-rata yang harus dimiliki nasabah adalah 600. Sedangkan kelompok Subprime Mortgage memiliki rating dibawah itu, dengan asumsi tetap rendahnya tingkat risiko dimana ketidakmampuan melanjutkan pembayaran kredit dapat diatasi dengan menyita barang kredit tersebut.
Proses transaksi KPR pada subprime mortgage ini melibatkan banyak pihak. Awalnya, masyarakat subprime yang ingin memiliki rumah mengajukan KPR pada bank/perusahaan pembiayaan. Kemudian bank/perusahaan tersebut membiayai terlebih dahulu untuk mendapatkan kepemilikan rumah. Karena permintaan KPR yang begitu banyak, bank butuh modal yang besar. Sehingga biaya atas KPR tersebut disekuritisasi untuk membiayai modal KPR yang selanjutnya. Tidak berhenti sampai disitu, aktivititas sekuritisasi terus berkembang dan memunculkan juga perlindungan terhadap kredit gagal bayar. Panjangnya alur keuangan tersebut tentu memiliki risiko yang sesuai dengan harapan keuntungannya yang tinggi.
Dalam sejarah perekonomian dunia, pada pertengahan tahun 2007 hingga pada puncaknya September 2008, Amerika Serikat dilanda krisis subprime mortgage yang ditandai dengan pengumuman kebangkrutan beberapa lembaga keuangan. Awal mula masalah tersebut terjadi pada tahun 2001-2004 dimana industri dotcom bankrut dan tidak mampu membayar pinjaman bank. Untuk mengatasi hal tersebut, The Fed menurunkan suku bunga. Di sisi lain turunnya suku bunga dimanfaatkan industri perumahan dan perusahaan pembiayaan perumahan untuk membangun dan menjual rumah murah dengan KPR Subprime Mortgage. Kemudian tahun 2004-2006 terjadi gelembung di sektor perumahan dan terjadi koreksi atas harga perumahan serta suku bunga naik dari 1% menjadi 5,25%. Kenaikan suku bunga membuat banyak warga Amerika gagal bayar cicilan subprime mortgage, karena harga rumah yang dikredit melambung tinggi. Selanjutnya, efek domino pada industri keuangan Amerika Serikatpun tidak dapat dihindari. Dimulai dari salah satu lembaga keuangan terbesar di Amerika Serikat dan dunia, Lehman Brothers, menyatakan bangkrut dan diikuti oleh lembaga keuangan para kreditor dan investor lainnya.
Keterkaitan pasar keuangan Amerika Serikat dengan pasar keuangan negara- negara lain dan internasional menyebabkan dampak dari krisis tersebut menjadi krisis keuangan global yang mengancam stabilitas perekonomian banyak negara. Krisis keuangan global ini telah merontokkan indeks harga saham gabungan di seluruh bursa terkemuka dunia termasuk di dalamnya Kanada, Rusia, Australia, Inggris, Korea, Hongkong, Jepang dan Indonesia.
Penutup
Jika diperhatikan, The Fed (bank sentral Amerika) selaku pembuat kebijakan di bidang moneter memiliki peran yang besar dalam perekonomian Amerika Serikat. Ketika The Fed mengeluarkan suatu kebijakan, maka efeknya dapat memberikan dampak yang besar bagi perekonomian negara tersebut. Jadi kesimpulannya, dalam membuat kebijakan haruslah dilakukan secara tenang dan teliti agar keuntungan menjadi milik dari semua pihak. Sistem ekonomi yang dimana sektor moneter lebih besar dari sektor riil.

Daftar Pustaka

Nezky, Mita, 2013, Pengaruh Krisis Ekonomi Amerika Serikat Terhadap Bursa Saham dan Perdagangan Indonesia, Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Januari 2013
Tim Penyusun Departemen Komunikasi dan Informatika, 2008, Memahami Krisis Keuangan : Bagaimana Harus Bersikap, Departemen Komunikasi dan Informatika
Amir Kusnanto, Global Financial Crisis dikutip dari http://blog.stie-mce.ac.id/amirkusnanto/2010/12/27/global-financial-crisis/ accessed 2 April 2016
Juan Feju, Properti Amerika dan Perekonomian Dunia di Tahun 2008 dikutip dari http://dapur-uang.com/penjelasan-mudah-subprime-mortgage-crisis-penyebab-kehancuran-harga-properti-amerika-dan-perekonomian-dunia-di-tahun-2008/ accessed 3 April 2016